Kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, terus berlalu
tanpa henti. Perlahan..... detik..., menit...., jam....., hari.....,
minggu......, bulan......., dan tahun pun berlalu. Waktu yang telah kita
lewati, tak pernah sekali pun berjanji untuk menjelang kembali. Dalam menjalani
kehidupan di dunia fana ini, suatu waktu seberkas kebahagian meliputi diri;
hari berlalu begitu indah; penuh tawa dan canda. Akan tetapi, di lain waktu,
kita merasa tercampak ke dalam kubangan penderitaan; yang tersisa hanyalah
rintihan, desah tangis, dan deraian air mata.
Bila direnungkan secara mendalam, maka hidup kita ini tak
obahnya seperti lembaran dedaunan hijau yang sedang digerogoti ulat. Itulah
putaran waktu. Hidup bagaikan hujan deras yang turun menyiram bumi. Kita
manusia adalah tanaman yang mekar-merekah beberapa saat, lalu layu, kering, dan
akhirnya jatuh ke permukaan tanah. Apa arti semua ini? ..... Dunia yang kita
tempati sekarang hanyalah tempat persinggahan sejenak. Sadarilah, dunia ini
bersifat maya dan sementara. Tak ada yang abadi. “Semua bakal lenyap dan
musnah. Yang Kekal dan Abadi hanyalah zat Allah semata. Dialah Yang Maha Agung
lagi Maha Mulia”.[1]

Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati.
Kemudian
hanyalah kepada kami kamu dikembalikan.[2]
Sadar dan insyaf-lah,
wahai diri!
Permainan sang waktu tak
pernah jemu menjerumuskan kita ke dalam kelalaian. Bukankah pada akhirnya, kita
bakal terkapar, tanpa daya di liang lahat, di bawah gundukan tanah bertatahkan
batu nisan? Inna lillâhi wa inna ilayhi râji’ûn....... Bukankah
itu suatu kepastian? Lebih pasti dari akan terbitnya sang fajar esok hari. Tak
seorang pun bakal luput dari yang namanya ajal.
Bayangkanlah.......Betapa
pedihnya penderitaan tatkala sakaratul maut itu. Ketika Izra’il, malaikat
pencabut nyawa menarik roh kita sejengkal demi sejangkal. Dengan menanggung
sakit tak alang kepalang, bagaikan 300 kali bacokan pedang, bak binatang
dikuliti dalam keadaan masih hidup. Begitu pedih dan menyiksa. Lalu dengan
nafas sesak, kita berusaha menjerit
serak:........Allah..........Allah........Allah........Waktu itu, mulai dari
ujung kaki sampai ubun-ubun kita mengelepar menahan sakit. Pandangan mata kita
kian lama akan semakin kabur, dan akhirnya........gelap gulita sama sekali.
Pada sentakan yang
terakhir, sakitnya tak tertahankan lagi; pengap, sesak, dan menindih.
Merenggang hebat sekujur tubuh kita, lalu tubuh yang tadinya penuh semangat,
berubah kaku dan beku seketika. Kemudian, tibalah saatnya jasad kita dimandikan
orang untuk kali yang terakhir. Selanjutnya, dibungkus dengan lembaran kain
kafan. Sehebat dan sekaya apa pun kita masa di dunia, tetap itulah pakaian kita
saat menghadap ke hadirat Ilahi. Setelah itu, orang banyak akan
menyelenggarakan shalat jenazah; menyampaikan salam perpisahan melepas
keberangkatan kita menuju alam baka. Keranda tempat kita dibaringkan pun
digotong orang nenuju pandam pemakaman..
Saat itu, orang yang
melayat dengan wajah penuh duka, tertunduk pilu berusaha untuk mengumandangkan:
”Subhânallâh wal Hamdu lillâhi wa Lâ Ilâha IllAllâh.....Allâhu akbar”.
Adik atau kakak kita menangis haru di pintu halaman. Iba sangat hati ayah dan
ibu, kita anak tumpuan harapan telah tiada, pergi buat selamanya. Teman dan
sahabat menatap dengan muka sabak berlinang air mata..... Akan tetapi, kita
yang sudah menjadi mayat, tak pedulikan semua itu. Keranda tetap diusung orang.
Saat tiba di pandam pemakaman, telah disediakan orang untuk kita sebuah lubang
berukuran tak lebih dari 1x2 meter dengan sebuah liang lahat; sekedar seukuran
badan. Masih belum sadarkah kita bahwa itulah sebenarnya rumah masa depan kita?
Jasad kita perlahan akan diturunkan ke liang kubur, dibaringkan dalam liang
lahat dengan posisi menghadap kiblat. Diiringi doa “Bismillâhi ’alâ
millati Rasûlillâh Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam”, air mata pun
menetes kali yang terakhir.
Setelah itu, bongkahan
tanah dijatuhkan perlahan sampai akhirnya menutupi seluruh lubang kuburan. Kian
lama semakin padat dan akhirnya batu nisan pun di pancangkan sebagai tanda di sinilah
seorang anak manusia pernah dikuburkan. Itulah kenyataan yang tak terbantahkan.
Siapa pun tak dapat memungkirinya dan
kita tak dapat menghindar darinya. Kenapa? Kini terbukti sudah, betapa benarnya
firman Allah "Sesungguhnya
kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan
menemui kamu. Kemudian, kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang Maha Mengetahui
yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu
kerjakan".[3] Benar juga, firman
Allah lainnya:

Apabila telah datang
ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya
0 komentar:
Posting Komentar